Dalam beberapa pekan terakhir, The Odyssey karya Christopher Nolan menjadi salah satu perbincangan di sosial media, bahkan sebelum filmnya resmi dirilis. Berbagai komentar bermunculan, mulai dari antusiasme terhadap skala produksi Nolan hingga tuduhan yang kini nyaris menjadi ritual bagi setiap film besar: bahwa ia terlalu “woke”, terlalu menyimpang dari teks aslinya.
Bukan hal baru, hampir setiap adaptasi dari karya sastra klasik selalu memancing silang pendapat. Sebagian penonton sibuk menghitung adegan yang dihilangkan, karakter yang dianggap disalahpahami, atau detail yang dinilai tidak lagi “otentik.” Namun bagi saya, memperlakukan adaptasi semata-mata sebagai ujian kesetiaan terhadap teks justru kehilangan hal yang paling menarik dari sebuah karya seni: kemampuannya berkoresponden dengan zamannya sendiri.
Lagipula, tidak pernah ada pembacaan yang benar-benar murni atas Odyssey. Puisi yang telah berusia hampir tiga milenium itu sendiri lahir dari tradisi lisan yang panjang, diwariskan selama berabad-abad melalui ingatan, improvisasi, dan penceritaan ulang sebelum akhirnya dibakukan dalam bentuk tulisan. Hal itu dengan kata lain, bahkan “teks asli” yang sering dibela para puritan pun sesungguhnya merupakan hasil dari berbagai lapisan interpretasi. Siapa pun yang membaca Odyssey—termasuk Nolan—selalu melakukannya melalui bias pengalaman sejarah, politik, dan kebudayaannya sendiri.
Karena itu, pertanyaan yang jauh lebih menarik bukanlah apakah Nolan cukup setia kepada Homer, melainkan: mengapa Odyssey bisa relevan hari ini? Bahkan oleh jutaan orang yang mungkin tidak pernah berinteraksi dengan karya Homer ataupun kisah-kisah klasik Yunani. Mengapa sebuah kisah berusia hampir 3.000 tahun mampu menarik ratusan juta dolar di box office pada akhir pekan pembukaannya.
—
Apa yang hendak dipresentasikan Christopher Nolan melalui The Odyssey tampaknya bukan sekadar kisah tentang kemenangan Yunani atas Troya, melainkan bagaimana sebuah peradaban mulai runtuh ketika kemenangan jangka pendek dianggap lebih berharga daripada prinsip-prinsip yang selama ini menopangnya. Itu tercermin melalui taktik Kuda Troya. Odysseus sendiri mengaku bahwa mereka “meninggalkan hadiah palsu, sebuah persembahan perdamaian, yang diterima masuk ke dalam benteng Troya. Kami menodai nilai-nilai yang paling suci yang dijunjung tinggi umat manusia. Kami mengubah pertarungan yang terhormat menjadi perburuan liar. […] kami membumihanguskan benteng Troya, itu terasa seperti membakar seluruh dunia, beserta rumahnya sendiri.” Kemenangan memang berhasil diraih, tetapi dengan mengorbankan xenia—hukum kesucian tentang keramahtamahan dan perlindungan terhadap tamu yang berada di bawah naungan Zeus.
Pelanggaran terhadap xenia menjadi bagian dari ambisi Agamemnon yang menempatkan penghancuran Troya di atas segala norma dan batas moral. Demi kemenangan, aturan yang seharusnya menjadi fondasi peradaban justru dikesampingkan. Kekerasan dan tipu daya tidak lagi dipandang sebagai pengecualian, melainkan sebagai instrumen yang sah untuk mencapai tujuan.
Konsekuensi dari pelanggaran tersebut kemudian mengikuti Odysseus dalam perjalanan pulangnya. Demi bertahan hidup, pasukannya berkali-kali menjarah dan meluluhlantakkan pulau-pulau yang mereka singgahi. Pembenaran atas nama survival perlahan menghapus batas antara perang yang dianggap sah dan perampasan yang sewenang-wenang. Ironisnya, ketika Odysseus akhirnya bisa kembali ke Ithaka, ia justru menemukan rumahnya sendiri diduduki para suitor/parasitos yang juga menginjak-injak xenia. Mereka menyalahgunakan keramahtamahan Penelope, menghabiskan harta istana, dan mengubah rumah sang raja menjadi tempat pesta tanpa penghormatan terhadap Zeus’s Law. Pelanggaran terhadap aturan dasar peradaban yang dahulu dilakukan oleh pihak Yunani kini berbalik menghantam mereka sendiri.
Di sini Nolan seolah menyiratkan. Keruntuhan Zaman Perunggu bukan semata-mata disebabkan oleh serangan dari luar, melainkan oleh retaknya norma-norma yang menjadi fondasi kehidupan bersama. Lebih ironis lagi, mereka yang melanggar aturan tersebut justru adalah pihak yang mengklaim diri sebagai penjaga peradaban. Sebagaimana diungkapkan Odysseus, “Kita dahulu mendiami dunia yang dipenuhi istana megah, jalur perdagangan, dan beragam bahasa. Namun kita begitu buta terhadap keindahannya hingga akhirnya kitalah yang menghancurkannya menjadi debu.” Penelope kemudian mengafirmasi ironi tersebut ketika berkata kepada Odysseus yang menyamar sebagai pengemis, “Kalianlah yang akhirnya menjelma menjadi ‘Bangsa Laut’” itu. Musuh yang selama ini dianggap sebagai penyebab kehancuran ternyata tercipta dari tindakan mereka sendiri.
Ini mengingatkan pada peringatan Nietzsche, “Whoever fights monsters should see to it that in the process he does not become a monster. And if you gaze long enough into an abyss, the abyss will gaze back into you.” Peringatan tersebut berbicara tentang kontaminasi moral. Ketika seseorang atau suatu peradaban terlalu lama memusatkan diri untuk menghancurkan “monster”—baik berupa musuh, ideologi, maupun ancaman—mereka berisiko mengadopsi cara-cara yang sama: tipu daya, kekerasan, kebencian, dan pengabaian terhadap norma. Meskipun, kemenangan bisa dapat diraih, tetapi dengan harga yang jauh lebih mahal, yakni hilangnya prinsip-prinsip yang membedakan mereka dari musuh yang hendak mereka kalahkan. Pada pengertian itulah, monster baru tidak lahir dari luar, melainkan dari proses melawan monster itu sendiri.
Kehancuran dalam kisah ini bukan hanya Troya, melainkan kepercayaan bahwa aturan berlaku sama bagi semua orang. Sejak saat itu, hukum berubah menjadi instrumen kekuasaan: dipertahankan ketika menguntungkan dan dilanggar ketika menghambat kemenangan. Ketika standar ganda menjadi kebiasaan, keruntuhan sebuah tatanan hanyalah persoalan waktu. Persis di titik inilah kisah berusia ribuan tahun tersebut terasa begitu dekat dengan kondisi dunia saat ini.
The Odyssey menarik untuk dibaca bukan sekadar sebagai film petualangan atau adaptasi sastra, tetapi sebagai cermin bagi dunia kontemporer. Kita hidup pada saat tatanan internasional yang selama puluhan tahun diklaim berdiri di atas hukum, hak asasi manusia, demokrasi dan penghormatan terhadap kedaulatan negara justru memperlihatkan keretakannya sendiri. Norma-norma yang selama ini dipresentasikan sebagai universal semakin sering diterapkan secara selektif. Standar ganda seolah diterima jadi common sense. Pelanggaran terhadap kedaulatan negara dilakukan secara gamblang oleh negara-negara yang mengaku sebagai penjaga “rules-based international order”. Masih hangat diingatkan ketika presiden negara berdaulat Venezuela, Maduro, diculik oleh Delta Force AS, Iran yang diserang oleh AS-Israel, serta genosida di Palestina berlangsung di depan mata dunia tapi tanpa respons tegas dari lembaga-lembaga internasional. Prinsip-prinsip hukum internasional tampak semakin bergantung pada siapa pelakunya, bukan pada tindakan itu sendiri.
Dalam dunia seperti ini, kisah perjalanan pulang Odysseus memperoleh resonansi yang sama sekali baru. Bukan karena monster, penyihir, atau dewa-dewa yang ia hadapi, melainkan karena dunia yang digambarkan Nolan sendiri adalah dunia ketika tatanan lama telah runtuh, sementara tatanan baru belum sepenuhnya lahir. Para pahlawan bergerak di antara kekuasaan yang saling bertabrakan, hukum yang kehilangan kepastian, dan otoritas yang semakin sulit dipercaya. Itu yang membuat The Odyssey-nya Nolan terasa dekat meskipun kita tidak pernah tau dan membaca Homer.








Discussion about this post