• Call: +62
  • E-mail: sahita.institute@hints.id

Sahita InstitureSahita Institute

  • Home
  • About Us
  • Campaign
    • Trade Justice
    • Digital Justice
    • Energy Transtition
  • Collective Idea
    • Visual Movement
    • Article
  • News
  • Publication
No Result
View All Result
Sahita Institute
No Result
View All Result
STORY OUR TWITTER
Currently Playing

Hilirisasi dan Perlindungan Buruh

Hilirisasi dan Perlindungan Buruh

00:05:12

Geopolitics and Globalization A Feminist Reading and Critique from Asia

02:03:39

UPDATE

  • All
  • Article
  • Campaign
  • News
  • Publication
Article

Perjanjian ART Indonesia-AS : Momentum Kebangkitan Digital atau Gerbang Menuju Kolonisasi Digital?

Presiden Prabowo Subianto dan Presiden AS Donald Trump telah menandatangani Agreement on Reciprocal Trade (ART) pada 19 Februari 2026 yang...

April 3, 2026
29
Article

Politik Industri dari Bawah

Industrialisasi kontemporer di negara-negara Selatan, termasuk kebijakan hilirisasi mineral dan transisi hijau di Indonesia, mereproduksi ketergantungan dan ekstraktivisme hijau di...

March 18, 2026
14
Article

Agreement on Reciprocal Trade Indonesia-US: Kelindan Relasi Kolonial dan Mutasi Neoliberal

Pada 20 Februari 2026, Supreme Court (Mahkamah Agung) Amerika Serikat (AS) telah memutuskan bahwa banyak tarif impor yang diberlakukan Donald...

March 2, 2026
75
Article

Venezuela Sebagai Pintu Masuk Kekuasaan Tanpa Aturan

Pada 3 Januari 2026, Presiden Venezuela Nicolás Maduro dan istrinya ditangkap oleh pasukan Amerika Serikat (AS) dalam sebuah operasi militer...

February 22, 2026
37
Collective Idea

Industrialisasi Dari Bawah

Transformasi ekonomi global kini tengah bergeser, dari sumber energi hingga teknologi dan komoditas ramah lingkungan, yang digadang sebagai solusi krisis...

December 8, 2025
36
Article

ISDS, Ancaman dan Risiko Ketika Investor Bisa Gugat Negara

Dalam dunia ekonomi global yang semakin saling terhubung, perjanjian perdagangan dan investasi sering diklaim sebagai langkah menuju kemakmuran bersama. Namun...

November 20, 2025
56
Load More

Follow Us

  • Tragedi Pendangkalan Nalar : Ancaman Atrofi Kognitif di Era AI dan Sosial Media.

Penulis : Ipung Purwandono dan AI Asistant
  • Keberanian bukanlah datang dari langit. Ia harus dilatih terus menerus. Keberanian beserta ilmu pengetahuan akan membawa manusia membuka pintu gerbang perubahan.

Keberanian dan ilmu pengetahuan juga harus dilandaskan pada keberpihakan kepada kaum yang lemah.

#rakartini #hints #endwto
  • Dalam situasi perang yang sedang berkecamuk saat ini, ekspor minyak Amerika Serikat justru melonjak menjadi 5,2 juta barel per hari, menandai level tertinggi dalam tujuh bulan kebelakang.

Hal ini menandai, dengan segala alibi peperangan yang dimulai oleh Amerika Serikat berujung pada kepentingan dominasi minyak Amerika Serikat itu sendiri.

Transisi energi terutama mengenai alih penggunaan bahan bakar minyak menjadi menggunakan bahan bakar terbarukan, selain dapat menyelamatkan lingkungan hidup juga dapat menekan dominasi rezim minyak yang dikomandoi oleh Amerika Serikat, dan juga menghindari peperangan dengan motivasi perebutan sumber daya minyak di bumi ini.
  • Direktur Jenderal WTO, Ngozi Okonjo-Iweala, pada pembukaan KTM WTO ke-14 menyampaikan beberapa masalah yang dihadapi oleh WTO termasuk berkaitan dengan lumpuhnya mekanisme penyelesaian sengketa. Ia menekankan bahwa tatanan dunia dan sistem multilateral hari ini telah berubah.

Apabila bentuk baru dari tatanan perdagangan dilakukan melalui mekanisme bilateral dan plurilateral, negara miskin akan semakin terpinggirkan dalam tatanan yang diatur oleh kuasa dan bukan aturan.

Meskipun demikian, perwakilan dari negara berkembang terus berusaha untuk membendung gempuran kepentingan AS. China, India, dan Indonesia menjadi Negara Anggota yang menggarisbawahi pentingnya agenda reformasi WTO yang inklusif dan member-driven. Ketiganya berupaya untuk mempertahankan Special and Differential Treatment (S&DT) dan pemulihan mekanisme penyelesaian sengketa. 

Dinamika yang saat ini terjadi di WTO menunjukkan bagaimana negara maju terus menerus berusaha melanggengkan struktur kuasa yang timpang sehingga tercipta ketergantungan terhadap negara berkembang. Meskipun demikian, Pemerintah negara berkembang memiliki kewajiban untuk terus mempertahankan policy space, kedaulatan, dan mendorong kepentingan petani, nelayan, produsen pangan skala kecil, dan industri dalam negeri alih-alih terbawa arus agenda negara maju yang kental akan kepentingan politik kuasa.

Selengkapnya bisa baca melalui klik link berikut ini https://keadilanekonomi.net/2026/03/30/tekanan-reformasi-wto-dan-bagaimana-negara-selatan-membendung-kepentingan-negara-utara-di-kamerun/ 

Dilaporkan oleh Salsabila Putri Noor Aziziah sebagai Fasilitator Koalisi MKE.
  • Dinamika dalam KTM WTO ke-14 tidak hanya terjadi antara Negara Utara dan Selatan, tetapi juga adanya represi terhadap masyarakat sipil. Sekretariat WTO telah melarang aksi masyarakat sipil dan bertolak belakang dengan janji mereka di awal untuk memastikan izin aksi damai. Pelarangan aksi ini disampaikan oleh Sekretariat WTO secara mendadak malam sebelum KTM WTO dimulai.

Sekretariat WTO secara sepihak melarang bentuk aksi damai apapun, termasuk membentangkan spanduk, poster, menyuarakan yel-yel/mic-check, dan melakukan aksi diam. Selebaran yang disebar di tiap meja pun kemudian disita

Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekonomi (Koalisi MKE) menghadiri KTM WTO bersama dengan jaringan Our World Is Not For Sale (OWINFS) yang telah menghadiri pertemuan menteri sejak awal WTO didirikan.

Dari awal dibentuknya WTO, masyarakat sipil memang telah dikesampingkan partisipasinya dan tidak diizinkan untuk sekadar memantau dari dalam meskipun dalam forum internasional lainnya organisasi masyarakat sipil yang terakreditasi terjamin partisipasinya. Setidaknya pada 2 putaran KTM WTO terakhir, aksi masyarakat sipil semakin direpresi. Padahal masyarakat sipil yang hadir datang dari berbagai negara untuk menyuarakan kepentingan rakyat, termasuk perempuan, petani, dan nelayan skala kecil.

Lebih lengkap bisa baca link berikut ini https://keadilanekonomi.net/2026/03/30/suara-masyarakat-sipil-semakin-direpresi-di-ktm-wto-ke-14/ 

*Dilaporkan oleh Salsabila Putri Noor Aziziah sebagai Fasilitator Koalisi MKE
  • Transitioning from fossil fuels to renewable energy is an urgent necessity, not only to address climate change, but also to reduce vulnerability to energy-driven global conflicts.
  • KTM WTO ke-14 yang diadakan pada 26-29 Maret 2025 akan menjadi salah satu komponen penting dalam penyusunan ulang tatanan multilateral global. KTM WTO saat ini terjadi dalam konteks tensi geopolitik, krisis iklim, genosida yang terus terjadi di Palestina, kontestasi atas kontrol sumber mineral kritis, dan tekanan Amerika Serikat terhadap Negara Selatan melalui manuver unilateral dalam wujud Perjanjian Perdagangan Resiprokal (Agreements on Reciprocal Trade/ART).

KTM WTO ke-14 disebut sebagai pertemuan menteri ‘reformatif’. Reformasi ini didorong tanpa adanya konsensus dari 166 Negara Anggota WTO dan terus menerus mendapatkan penolakan dari Negara Selatan. Sejak 2017, isu-isu yang menjadi perhatian Negara Selatan tidak ditindaklanjuti. Sayangnya, beberapa isu plurilateral justru muncul berdasarkan kepentingan sekelompok Negara Maju, termasuk Cina.

Secara proses, agenda Reformasi WTO mengesampingkan keterlibatan dan suara dari negara berkembang dengan menugaskan fasilitator “informal” di mana negara berkembang akan kesulitan untuk mengikuti tiap negosiasi. Proses ini sangat membatasi waktu untuk diskusi kolektif yang seharusnya dilakukan dengan seluruh Negara Anggota. Selain AS, EU juga mendorong agenda reformasi yang sesuai dengan kepentingan Washington. Agenda tersebut yang kemungkinan akan didorong di Kamerun dan dilanjutkan prosesnya di Kantor Pusat WTO, Jenewa.

Sejak awal WTO didirikan, terdapat ketimpangan kuasa dan latar belakang historis yang berbeda antara Negara Utara dengan Negara Selatan. Tetapi agenda ‘Reformasi’ WTO menjadi penanda bahwa Negara Utara akan kembali membentuk tatanan berbasis politik kuasa alih-alih mendorong reformasi kepada tatanan multilateral yang berbasis solidaritas dan kolaborasi.

*)Artikel ini merupakan rangkuman Laporan Salsabila Putri Noor Aziziah sebagai Fasilitator Koalisi MKE dari pertemuan KTM WTO ke 14 yang berlangsung di Yaonde, Kamerun.
  • Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. 

Kembali ke fitrah, membangun semangat solidaritas antar umat manusia. 

Semoga keberkahan menyertai kita semua dan diberikan kemudahan dalam setiap perjuangan hidup kedepannya.

© 2022 - Sahita Institute

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
No Result
View All Result
  • Home
  • About Us
  • Campaign
    • Trade Justice
    • Digital Justice
    • Energy Transtition
  • Collective Idea
    • Visual Movement
    • Article
  • News
  • Publication

© 2022 Sahita Institute