• Call: +62
  • E-mail: sahita.institute@hints.id
Sahita Institure
  • Home
  • About Us
  • Campaign
    • Trade Justice
    • Digital Justice
    • Energy Transtition
  • Collective Idea
    • Visual Movement
    • Article
  • News
  • Publication
No Result
View All Result
Sahita Institute
No Result
View All Result

Koalisi MKE Bersama PWYP Indonesia dan INFID Kritik Rencana Pengecualian DHE SDA, Jangan Sampai Untungkan Korporasi Asing

May 28, 2026
in Collective Idea, News
Home Collective Idea
Share on FacebookShare on Twitter

STRATEGI.ID – Gelombang kritik terhadap rencana pengecualian kewajiban penempatan Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE SDA) kembali mencuat.

Kali ini, sejumlah organisasi masyarakat sipil mempertanyakan legalitas kebijakan pemerintah yang disebut akan memberi perlakuan khusus kepada Amerika Serikat dalam skema perdagangan bilateral.

Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekonomi (Koalisi MKE) bersama Publish What You Pay (PWYP) Indonesia dan INFID menilai langkah tersebut berpotensi menabrak aturan karena perjanjian perdagangan resiprokal Indonesia-Amerika Serikat atau Indonesia-AS ART hingga kini belum resmi berlaku.

Sorotan itu muncul setelah Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyebut pemerintah membuka peluang pengecualian kewajiban DHE SDA bagi negara mitra yang sudah memiliki kerja sama perdagangan bilateral maupun free trade agreement (FTA) dengan Indonesia.

Direktur Sahita Institute (Hints), Olisias Gultom mengatakan, kebijakan penempatan DHE SDA di dalam negeri sebenarnya menjadi langkah strategis pemerintah untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

Menurutnya, dana hasil ekspor sumber daya alam seharusnya bisa dimanfaatkan maksimal untuk menopang stabilitas ekonomi di tengah tekanan pelemahan rupiah dan meningkatnya kebutuhan pembiayaan negara.

Namun, ia mengingatkan pemberian pengecualian kepada perusahaan dari negara mitra dagang asing harus dilakukan secara hati-hati karena berisiko mengurangi efektivitas kebijakan tersebut.

“Pengecualian yang diberikan Pemerintah Indonesia kepada eksportir dari mitra dagang luar negeri yang telah memiliki FTA harus dilakukan secara hati-hati dan berpotensi kurang efektif dalam Upaya memaksimalkan ketahanan ekonomi mengingat peran signifikan perusahaan asing di dalam kegiatan eksportir SDA,” ujarnya, Selasa, 26 Mei 2026.

 

Jangan Sampai Untungkan Korporasi Asing

Kritik lebih keras disampaikan Koordinator Nasional PWYP Indonesia, Aryanto Nugroho.

Ia menilai relaksasi DHE SDA untuk perusahaan dari Amerika Serikat justru membuka kembali ruang keuntungan besar bagi korporasi multinasional di sektor ekstraktif.

Menurut Aryanto, selama ini Indonesia sudah menanggung banyak dampak sosial dan kerusakan lingkungan akibat eksploitasi sumber daya alam.

Karena itu, hasil finansial dari sektor tersebut seharusnya tidak terus mengalir keluar negeri.

“Selama ini eksploitasi sumber daya alam, khususnya sektor ekstraktif telah meninggalkan jejak krisis sosial-ekologis yang masif di tapak. Sangat tidak adil jika kerusakan lingkungannya ditinggalkan di Indonesia, sementara keuntungan finansialnya dibiarkan terbang ke luar negeri,” beber Aryanto.

Ia juga menilai kompromi dalam perjanjian perdagangan Indonesia-AS ART dapat menjadi bentuk ketergantungan tata kelola ekonomi nasional terhadap tekanan global.

“Memberikan pengecualian DHE SDA melalui kompromi perjanjian dagang seperti Indonesia-AS ART merupakan bentuk nyata ketundukan tata kelola kita terhadap tekanan aktor global, yang jelas-jelas mengkhianati kedaulatan bangsa,” tambahnya.

Transparansi Pengelolaan DHE SDA Disorot Selain persoalan legalitas, koalisi masyarakat sipil juga menyoroti lemahnya transparansi dalam pengelolaan dana DHE SDA.

Aryanto menegaskan pemerintah perlu membuka data kepatuhan korporasi serta penggunaan dana DHE secara transparan agar publik bisa ikut mengawasi implementasi kebijakan tersebut.

Menurutnya, likuiditas dari DHE SDA tidak boleh hanya menguntungkan sektor perbankan semata, melainkan harus dipakai untuk kepentingan yang lebih luas, termasuk pemulihan lingkungan dan transisi energi berkeadilan.

“Kami mendorong agar data kepatuhan korporasi dan pengelolaan DHE dipublikasikan secara terbuka agar masyarakat luas dapat ikut mengawasi. Di samping itu, kami mendesak agar likuiditas dari DHE ini memiliki kejelasan peruntukan dan tidak hanya menguntungkan sektor perbankan semata,” jelasnya.

 

Perjanjian RI-AS Belum Sah Secara Hukum

Peneliti Transnational Institute, Rachmi Hertanti menilai, pemerintah belum memiliki dasar hukum untuk memberikan pengecualian DHE SDA kepada Amerika Serikat.

Ia menjelaskan perjanjian Indonesia-AS ART belum berlaku karena proses ratifikasi belum dilakukan oleh Indonesia.

Rachmi juga menyoroti status kebijakan tarif resiprokal Presiden AS Donald Trump yang disebut telah dinyatakan tidak sah oleh putusan Mahkamah Agung Amerika Serikat.

“Pemerintah Indonesia telah terikat komitmen untuk meninjau kembali persyaratan kewajiban pengalihan hasil ekspor sumber daya alam di dalam negeri dan mendesaknya agar dalam waktu 12 bulan sejak perjanjian ART berlaku kewajiban tersebut harus dihapuskan. Namun, hingga saat ini proses ratifikasi Perjanjian ART belum dilakukan,” kata dia.

Menurutnya, kondisi tersebut membuat pemerintah Indonesia belum memiliki landasan hukum untuk menjalankan isi perjanjian tersebut.

“Sehingga, pemberian pengecualian ketentuan DHE SDA kepada mitra dagang AS tidak dapat dilakukan oleh pemerintah,” imbuhnya.

 

Perjanjian Dagang Bisa Tekan Petani dan Rupiah

Sementara itu, peneliti FIAN Indonesia, Hana Saragih mengingatkan bahwa skema trade balancing requirement dari AS berpotensi memberi tekanan tambahan terhadap ekonomi nasional.

Ia menilai kewajiban impor sejumlah produk pertanian dari AS, seperti kedelai dan jagung, dapat memperbesar beban impor Indonesia dan berdampak terhadap pelemahan rupiah.

Tak hanya itu, pengecualian produk pertanian AS dari mekanisme neraca komoditas juga dinilai berpotensi mengganggu perlindungan harga hasil panen petani lokal.

“Perjanjian ini praktis membatasi kebijakan Indonesia mengatur impor produk pangan dan pertanian. Jika pemerintah meratifikasi perjanjian ini, Indonesia tidak lagi memiliki keleluasaan untuk menilai kebutuhan domestik, perlindungan produsen lokal, standar mutu nasional, maupun kesesuaian dengan konteks sosial-budaya sebelum produk masuk ke pasar domestik. Imbasnya, terbentuk rezim akses pasar yang asimetris,” ulas Hana.

 

Pemerintah Jangan Korbankan Kedaulatan Ekonomi

Di akhir pernyataannya, Koalisi MKE meminta pemerintah tidak menjadikan perjanjian perdagangan sebagai alat kompromi yang merugikan kepentingan nasional.

Mereka mendesak agar Indonesia-AS ART tidak dilanjutkan selama belum memiliki dasar hukum yang jelas dan dinilai berpotensi menggerus kedaulatan ekonomi serta pengelolaan sumber daya alam Indonesia.

Koalisi juga mengingatkan bahwa kebijakan ekonomi strategis seharusnya berpihak pada kepentingan rakyat dan ketahanan nasional, bukan semata-mata memenuhi tekanan pasar global maupun kepentingan negara lain.***

sumber : strategi.id

 

 

Tags: #ART#DevisaHasilEkspor#PerjanjianDagangDHESDA IndonesiaASARThintsKedaulatanEkonomi
Previous Post

Pengecualian DHE SDA untuk Amerika Serikat Dinilai Inkonstitusional, Koalisi Sipil Ingatkan Potensi Kerugian Negara

Next Post

A threat to climate action, ISDS should be removed from the ASEAN-Australia-New Zealand FTA (AANZFTA)

admin_hints

admin_hints

Discussion about this post

Follow Us

  • Perdagangan global bukan cuma soal ekspor, impor, atau angka pertumbuhan ekonomi. Ada kepentingan besar, perebutan pengaruh, dan relasi kuasa yang ikut menentukan siapa yang diuntungkan dan siapa yang berisiko tertinggal.

Lewat dialog publik “Perdagangan Bebas di Persimpangan Jalan: Kebangkitan Nasionalisme Ekonomi dan Masa Depan WTO”, kita diajak melihat lebih kritis arah perdagangan dunia di tengah rivalitas negara-negara besar dan menguatnya proteksionisme.

#PerdaganganBebas #WTO #KeadilanEkonomi #KedaulatanEkonomi #RuangKebijakan
  • Perdagangan internasional kini tidak hanya dipandang sebagai instrumen efisiensi ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi negara dalam melindungi kepentingan nasional dan keamanan ekonomi. Menguatnya nasionalisme ekonomi, proteksionisme, dan economic statecraft, termasuk perang dagang AS–Tiongkok, memunculkan pertanyaan mendasar: apakah perdagangan bebas sedang mengalami kemunduran, atau justru bertransformasi menjadi sistem yang semakin selektif dan strategis?

Di tengah perubahan tersebut, relevansi dan kapasitas WTO dalam menjaga sistem perdagangan multilateral berbasis aturan ikut dipertanyakan, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia yang membutuhkan ruang kebijakan (policy space) untuk pembangunan. 

Kegiatan dialog publik ini diselenggarakan oleh Fakultas HI Universitas Diponegoro bekerja sama dengan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekonomi (MKE), diharapkan dapat menjadi ruang diskusi kritis bagi akademisi, praktisi, dan masyarakat sipil untuk membahas isu tersebut.

Dengan ini kami mengundang Bapak/Ibu/rekan-rekan anggota Koalisi MKE untuk hadir pada:

📌 *Dialog Publik: Perdagangan Bebas di Persimpangan Jalan: Kebangkitan Nasionalisme Ekonomi dan Masa Depan WTO*
🗓️ Hari/Tanggal: Rabu, 21 Oktober 2026
⏰ Waktu: 13.00 WIB - selesai
📍 Tempat: Ruang Teater, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro, Semarang

Terima kasih atas perhatian dan kehadirannya.

#KoalisiMKE #KeadilanEkonomi #UniversitasDiponegoro #UNDIP #AkademisiDanMasyarakatSipil
  • Here are a few glimpses of resistance from around the world.
ISDS threatens public policy space, social justice, and environmental protection. Let’s unite our voices during the **Global Action Days Against ISDS!*

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS THREATENS OUR PLANET – PART 5

Video 5 - ISDS Attacks the Marine Environment 

Getting paid billions without even mining? Welcome to the reality of ISDS. ☣️

Even when governments enforce international marine protections—like UNCLOS—foreign investors can use complex corporate web structures to sue for "lost future profits". 🤯🙄

Corporations can extract millions from public coffers simply because a country chooses to protect its ocean. 🌊 

We can NOT allow secretive trade mechanisms to exploit our oceans and public money.

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS THREATENS OUR PLANET – PART 4

Is it possible to stop ISDS? ⛓️‍💥⛔️

Absolutely—and countries are already doing it! 🌍

From Indonesia and India terminated outdated bilateral investment treaties, to Germany exiting the Energy Charter Treaty, governments worldwide are realizing the danger of corporate courts. 😵✊🏽

Our Governments must STOP fearing corporate scaremongering.

Evidence shows foreign investment relies on resources, market size, and infrastructure—not ISDS clauses.

We call on governments to stand firm, exit toxic investment treaties, and protect national policy space! 🚨

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!
#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui  @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS THREATENS OUR PLANET – PART 3

Resource sovereignty is under attack. 🛘‼️

As the race for critical minerals speeds up, Global South countries are facing the risks of ISDS.

When Governments enact raw material export bans, enforce local processing, or protect indigenous lands, multinational corporations use ISDS to sue for billions of US dollars. 💸 

In countries like Indonesia and the Philippines, these corporate threats hold indigenous rights, environmental protections, and national policies hostage. 😵

Therefore, we demand an end to investment treaties with ISDS permanently and prioritize community rights over corporate greed! 🫵🏼✊🏽

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui  @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS THREATENS OUR PLANET – PART 2

ISDS Attacks Tax Justice 

Who pays the price when your Government is being sued through ISDS? YOU do. 💸😰

Fossil fuel corporations often seek tax avoidance, when Governments ask for them to pay–they’re threatened with ISDS claims.

When corporations use ISDS to attack national policies, Government budgets take a massive hit.

Losing an ISDS case or even paying high-powered legal teams to defend against one, drains public funds that belong to the people. 💰👥

Fewer public funds means reduced budget for important public services such as healthcare, education, and social security programs. ⛓️‍💥📉

ISDS doesn’t just protect investors but it actively steals communities of their rights to public services. 🥷

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

IsdsOutClimateJusticeIn ISDSThreatensOurPlanet ClimateJustice StopISDS ISDSfree 

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS Threatens Our Planet - Part 1

ISDS Attacks Coal Phase Out

How are corporate courts blocking urgent climate action? ⚠️🌏
Imagine a mechanism where Governments are chilled from taking robust climate actions out of fear from getting sued by corporations.

Yes, the mechanism is called Investor-State Dispute Settlement (ISDS). It allows foreign corporations to sue governments in secret tribunals for billions of dollars whenever public policies ”threaten” their future profits. 🤯🤬

Clive Palmer’s case against Australia shows us that ISDS is being weaponized to delay coal phase-outs and evade democratic accountability.
When corporations can hold climate policy hostage, taxpayers end up paying the price. 

In pushing for an ISDS-free world, we join the global movement on the global days of action against ISDS. 

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree 

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @psiglobalunion @lciti.ui @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev

© 2022 - Sahita Institute

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
No Result
View All Result
  • Home
  • About Us
  • Campaign
    • Trade Justice
    • Digital Justice
    • Energy Transtition
  • Collective Idea
    • Visual Movement
    • Article
  • News
  • Publication

© 2022 Sahita Institute