• Call: +62
  • E-mail: sahita.institute@hints.id
Sahita Institure
  • Home
  • About Us
  • Campaign
    • Trade Justice
    • Digital Justice
    • Energy Transtition
  • Collective Idea
    • Visual Movement
    • Article
  • News
  • Publication
No Result
View All Result
Sahita Institute
No Result
View All Result

Desakan Masyarakat Sipil Indonesia dan Eropa Agar PerundinganIndonesia-EU CEPA Tak Dilanjutkan

October 18, 2024
in Collective Idea, News
Home Collective Idea
Share on FacebookShare on Twitter

Brussels, 26 September 2024.
Di dalam masa transisi pemerintahan yang baru di Indonesia dan Eropa, perjanjian kerjasama ekonomi komprehensif Indonesia-Uni Eropa (I-EU CEPA) kerap dipaksakan untuk segera dituntaskan. Meskipun, berbagai isu sensitive masih belum dapat disepakati oleh kedua pihak khususnya berkaitan dengan isu mineral kritis, investasi, dan digital. Bahkan isu-isu sensitive ini masih menjadi kritik besar kelompok masyarakat sipil di Indonesia dan Uni Eropa mengingat potensi dampaknya terhadap kehidupan rakyat.

Pada Agustus 2024, Koalisi Masyarakat Sipil Indonesia untuk Keadilan Ekonomi (Koalisi MKE) telah mengirimkan Surat Terbuka Rakyat Indonesia kepada Presiden Joko Widodo untuk menghentikan perundingan akibat prosesnya yang tidak demokratis dan berpotensi melanggar Konstitusi Indonesia. Surat ini ditandatangani oleh 35 organisasi masyarakat sipil dan 30 individu aktivis pegiat HAM dan Keadilan Sosial di Indonesia.

Sebagai bagian kerja advokasi dan kampanye secara kolektif, European Trade Justice Network (ETJC) mendukung desakan Koalisi MKE untuk tidak menyelesaikan perundingan I-EU CEPA karena berpotensi melanggar HAM dan keberlanjutan lingkungan baik di Indonesia maupun di Uni Eropa.

Untuk itu, ETJC melakukan dialog dengan anggota parlemen Uni Eropa dari Partai Kiri dan Partai Hijau di Brussels, Belgia (26/9) untuk mendesak Parlemen Uni Eropa agar memastikan perundingan I-EU CEPA tidak dilanjutan dengan berbagai faktor pertimbangan dampak. ETJC yang diwakili oleh Transnational Institute, BothEnds, Friends of the Earth Europe, PowerShift, dan 11.11.11 menyampaikan secara langsung dokumen Surat Terbuka Rakyat Indonesia tersebut diatas kepada Anggota Parlemen Uni Eropa dari Partai Kiri dan Partai Hijau.

Dalam dialog ETJC dengan Anggota Parlemen Uni Eropa terdapat beberapa catatan kritis yang disampaikan khususnya berkaitan dengan kebijakan Uni Eropa mengenai Green Industrial Policy dan EU Critical Raw Materials Act. Dua kebijakan ini akan mendorong ekspansi ekstraksi mineral kritis dan privatisasi sektor energi di negara berkembang, khususnya Indonesia, akibat perundingan bab energi dan raw materials di dalam CEPA sebagai instrument pelaksana dari kedua kebijakan Uni Eropa tersebut.

Anggota Parlemen Partai Kiri menyampaikan komitmennya bahwa sektor energi adalah sektor esensial untuk public sehingga agenda privatisasi akan menjadi perhatian khusus anggotanya untuk memastikan Uni Eropa tidak mengambil untung dari praktek privatisasi energi di Indonesia. Lebih lanjut, anggota parlemen Partai Hijau menekankan bahwa agenda kebijakan industry hijau di Uni Eropa tidak boleh menutup kesempatan hak Indonesia untuk memiliki nilai tambah produksi dan hal ini sejalan dengan komitmen Partai Hijau untuk memastikan pembangunan yang berkelanjutan. Tentunya, tidak ada perjuangan yang sia-sia. Pada akhirnya, kedua pemerintahan Kembali menyatakan untuk menunda penyelesaian perundingan Indonesia-EU CEPA di akhir tahun 2024. Meskipun begitu, kelompok masyarakat sipil Indonesia dan Uni Eropa akan tetap konsisten menyuarakan secara kritis I-EU CEPA dan dampaknya terhadap kehidupan rakyat dan keberlanjutan planet ini.

 

1 of 3
- +

1. Source: Transnational Institute, 2024. Kiri-Kanan: Marius Troost, BothEnds; Rachmi Hertanti, Transnational Institute; Majdouline Sbai, MEPs Green Party’; Saskia Bricmont, MEPs Green Party; Marc Maes, 11.11.11; Lucia Barcena, Transnational Institute.

2. Source: Transnational Institute, 2024

3. Source: Transnational Institute, 2024

Previous Post

KOMUNIKE Konferensi Nasional Mineral Kritis Indonesia

Next Post

Indonesian National Critical Mineral Conference Produces Joint Communiqué

admin_hints

admin_hints

Discussion about this post

Follow Us

  • Sahita Institute kedatangan tamu Matt Kirkegaard dari Progressive International.

Kedatangan Matt untuk sama-sama berdiskusi mengenai kondisi Global hari ini dan juga sharing mengenai jaringan gerakan rakyat baik di Indonesia maupun di negara lainnya.

Diskusi juga dihadiri oleh organisasi lain seperti KPR, SMI, BMI dan FPBI. Isu terkini seperti Venezuela, Iran, dan juga langkah-langkah Donald Trump dalam kebijakannya saat ini.

Yang menjadi persamaan pada akhirnya ialah kebutuhan akan Solidaritas rakyat pekerja sedunia dan juga penguatan pengorganisiran rakyat dalam menghadapi imperialisme yang terpampang didepan mata.

US IMPERIALIST... HANDS OFF VENEZUELA!!
  • Mulai dari Invasi Teluk Babi Kuba, Afganistan, Irak, Libya, kini Venezuela. Amerika Serikat melakukan invasi/terorisme negara atas nama keamanan nasional.

Konsep kedaulatan negara (Westphalian Sovereignty) resmi jadi sampah. Batas negara dianggap tidak ada. Hukum Amerika berlaku di seluruh dunia. Ekstrateritorial. Sesuai kehendaknya sendiri. Dengan cita-cita membangun Imperialisme Amerika Serikat.

Invasi kali ini dibingkai dengan "Penegakan Hukum" kasus narkotika yang didalangi oleh Presiden Venezuela yakni Nicolas Maduro  seperti yang dituduhkan oleh Trump.

Terorisme terhadap kedaulatan negara yang dilakukan Amerika Serikat harus dikecam dan dihentikan. Salah satu caranya dengan membangun kekuatan politik negara Selatan-Selatan. Bukan cara yang mudah tentunya, tapi bukan berarti tidak bisa dilakukan, dan itu bisa dimulai dari persatuan gerakan rakyat antar negara.
  • Selamat Hari Raya Natal 2025 dan Tahun Baru 2026.

Melewati tahun ini yang penuh perjuangan dengan Cinta Kasih dan Solidaritas sesama warga.

Salam buat semua kawan dan keluarga yang merayakan.
  • Bagaimana negosiasi tarif Trump dan FTA memengaruhi aturan hukum dan ekonomi Indonesia?

Koalisi MKE bersama LCITI dan FHUI mengadakan Focus Group Discussion untuk membahas dampak tarif, langkah negosiasi pemerintah, serta pentingnya menjalankan Putusan MK No. 13/PUU-XVI/2018 sebagai kontrol publik atas perjanjian internasional.

📅 Kamis, 27 November 2025
🕘 09.30 – 17.00 WIB
📍 Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Ruang Rapat Guru Besar

Diskusi ini menjadi ruang penting bagi masyarakat sipil untuk menilai transparansi dan akuntabilitas kebijakan perdagangan Indonesia di tengah tekanan global.
  • Hilirisasi industri menjadi agenda kunci yang diteruskan oleh Pemerintahan Prabowo. Agenda ini kerap kali diklaim menjadi jalan untuk pertumbuhan ekonomi dan upaya keluar dari jeratan ketergantungan ekspor bahan mentah. 

Sayangnya hilirisasi yang dikontrol oleh investasi besar tidak diimplementasikan berdasarkan kebutuhan rakyat. Agenda hilirisasi justru masuk pada replikasi pola ketimpangan lama mulai dari ketergantungan modal asing, eksploitasi sumber daya alam skala besar, dan marjinalisasi komunitas. 

Realitas tersebut tentunya jauh dari upaya mencapai transisi berkeadilan. Transisi berkeadilan mengacu pada serangkaian prinsip, proses, dan praktik untuk mencapai tansformasi struktural yang holistik. Gagasan transisi berkeadilan dibangun berdasarkan pemikiran dan pengalaman gerakan lingkungan, masyarakat adat dan buruh yang menggarisbawahi pentingnya aspek lingkungan dan sosioekonomi dalam memperjuangkan keadilan iklim dan lingkungan.
  • DISKUSI PUBLIK: “Menelisik Pemerintahan Kelima Pasca Reformasi”

Selain sebagai ruang refleksi, kegiatan ini juga dimaksudkan untuk mempererat silaturahmi antar organisasi gerakan sosial dalam suasana yang baru, sekaligus membuka peluang kolaborasi yang sinergis untuk menjawab tantangan zaman. Oleh karena itu, diskusi publik ini diselenggarakan sebagai sebuah platform untuk membedah situasi terkini, merumuskan peluang, dan menyusun langkah-langkah strategis gerakan sosial.
  • Unpacking the ASEAN-Canada Free Trade Agreement (ACAFTA): Risk and Threats of Investor Lawsuit to State for People, Environment, and Democracy

ASEAN and Canada are currently negotiating ASEAN - Canada Free Trade Agreement (ACAFTA). This agreement is central for Canada to respond the current geopolitical situation, particularly in relation to competition for securing access to critical minerals.

One of key concerns of CSOs and Communities is the inclusion of the Investor-State Dispute Settlement (ISDS) mechanism which has repeatedly been used by multinational corporations to sue governments over public interest policies including the ones aimed at protecting the environment, indigenous rights, and public health.

In light of this concern, there is a pressing need to raise awareness and build capacity among civil society organizations and grassroots communities across ASEAN and Canada to critically discuss and examine the ACAFTA process and content.

Indonesia CSO Coalition for Economic Justice, Focus on the Global South, FTA Watch Thailand, Third World Network, AFTINET, Transnational Institute, and Canadian Centre for Policy Alternatives are hosting the webinar on:

Date: Thursday, 30 October 2025
Time: 19:00-21:00 Jakarta/Bangkok | 20:00-22:00 Malaysia/Manila | 08:00-10:00 Ottawa

Please register via bit.ly/AseanCanadaWebinar. Interpretation will be available in Indonesian and Thai.
  • Dunia sedang mengalami perubahan besar dalam konstelasi ekonomi-politik global. Ini ditandai dengan kemunduran relatif AS sebagai kekuatan imperialis utama bersama mitra strategisnya di Barat, perlambatan ekonomi kapitalis sejak krisis Keuangan Besar 2008–yang diperparah dengan pandemi covid-19, dan munculnya kekuatan-kekuatan alternatif seperti Tiongkok, Rusia, dan negara-negara lain yang disebut sebagai ‘penguatan’ Global South dengan visi yang condong mengarah pada tatanan dunia multipolar. Tentu, terlalu dini untuk mendeklarasikan kekalahan AS dan  Barat di saat kekuatan tersebut masih memegang kendali kuat pada bidang militer dan teknologi. 

Begitu pula perang tarif yang dilancarkan oleh Donald Trump perlu dipertimbangkan sebagai tujuan imperialis AS untuk menegaskan kembali  kekuatannya. Akan tetapi, kebangkitan kekuatan Global South tidak bisa diremehkan, mengingat rata-rata pertumbuhan ekonomi negara-negara tersebut mencerminkan kemampuan mereka sebagai pemain penting dalam percaturan ekonomi-politik global.

Perubahan besar memicu perdebatan tentang arah masa depan tatanan dunia. Dalam konteks ini, multipolaritas yang diaspirasikan Global South sering dipandang sebagai peluang untuk membuat tatanan global yang lebih demokratis. Inisiatif seperti BRICS+ dan OPEC+, kerjasama ekonomi Selatan-Selatan, serta diplomasi energi dan pangan menjadi sinyal dari upaya negara-negara periferi untuk membangun tatanan yang lebih setara. Namun, pertanyaan penting muncul: apakah ini benar-benar menjanjikan pembebasan, atau hanya mengganti wajah kekuasaan global yang tetap bersifat eksploitatif? Dalam praktiknya, kerja sama ini kerap tidak lepas dari kepentingan elite negara dan korporasi besar, serta belum sepenuhnya mengakar pada gerakan rakyat yang sejati.

Dalam waktu yang sama, imperialisme global juga ikut menyesuaikan dirinya. Salah satu wajah barunya adalah melalui apa yang disebut sebagai green colonialism — yakni kolonialisasi dalam bentuk menggunakan proyek-proyek transisi energi "hijau" yang dibaliknya justru memperparah perampasan tanah, penggusuran masyarakat adat, dan pencaplokan sumber daya alam oleh perusahaan.

© 2022 - Sahita Institute

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
No Result
View All Result
  • Home
  • About Us
  • Campaign
    • Trade Justice
    • Digital Justice
    • Energy Transtition
  • Collective Idea
    • Visual Movement
    • Article
  • News
  • Publication

© 2022 Sahita Institute