Transformasi ekonomi global kini tengah bergeser, dari sumber energi hingga teknologi dan komoditas ramah lingkungan, yang digadang sebagai solusi krisis iklim. Namun, di balik itu, isu ini masih dimanfaatkan untuk hegemoni politik global, di mana negara-negara global selatan tetap berperan sebagai penyedia bahan baku dan tenaga kerja murah, sementara keuntungan tetap mengalir ke negara utara. Fenomena ini disebut kolonialisme hijau, yang memperkuat ketergantungan struktural di bidang geoekonomi dan geopolitik.
Merespons tantangan ini, Pemerintah Indonesia mendorong hilirisasi industri berbasis sumber daya alam untuk menciptakan produk bernilai tambah, mengurangi ketergantungan impor dan pelemahan ekonomi akibat liberalisasi dan utang luar negeri. Hilirisasi ditargetkan pula untuk membuka lapangan kerja dan mencegah jebakan pendapatan menengah akibat deindustrialisasi.
Namun, pertanyaannya, apakah transformasi ini benar-benar adil bagi rakyat? Gerakan Buruh Indonesia mengadakan Simposium Nasional Industri Hijau pada 1-3 Juli 2025 di Sentul, Jawa Barat, sebagai ruang diskusi lintas sektor dan isu. Simposium bertujuan memahami perkembangan geoekonomi dan geopolitik, serta merumuskan konsep industrialisasi berkeadilan, dekolonialisasi, transisi energi, dan regionalisme alternatif. Kegiatan ini diharapkan menghasilkan dokumen pembangunan alternatif sebagai agenda aksi bersama bagi gerakan rakyat dalam menghadapi transisi hijau secara adil dan berkelanjutan.
Download : Kertas Posisi Indonesia Industrialisasi Dari Bawah








Discussion about this post