• Call: +62
  • E-mail: sahita.institute@hints.id
Sahita Institure
  • Home
  • About Us
  • Campaign
    • Trade Justice
    • Digital Justice
    • Energy Transtition
  • Collective Idea
    • Visual Movement
    • Article
  • News
  • Publication
No Result
View All Result
Sahita Institute
No Result
View All Result

Pax Silica: Persaingan Geopolitik, Ketergantungan Industri, dan Ancaman terhadap Kedaulatan Sumber Daya Filipina

Oleh: Beni Agung

October 29, 2026
in Article, Collective Idea
Home Collective Idea Article
Share on FacebookShare on Twitter

Quezon City, Filipina, 27 Oktober 2026 — Pax Silica, sebuah inisiatif kerja sama strategis yang dipimpin Amerika Serikat untuk memperkuat keamanan rantai pasok mineral kritis, semikonduktor, kecerdasan buatan, dan teknologi strategis lainnya, tengah menjadi perbincangan di Filipina. Inisiatif tersebut berkembang di tengah meningkatnya persaingan geopolitik antara Amerika Serikat dan Tiongkok dalam memperebutkan penguasaan sumber daya mineral dan teknologi global.

Di Filipina, kerja sama tersebut memunculkan perdebatan mengenai arah kebijakan industrialisasi nasional, terutama dalam pengelolaan sumber daya mineral, investasi asing, dan pengembangan industri semikonduktor. Di balik peluang ekonomi yang dijanjikan, muncul pula kekhawatiran mengenai kedaulatan sumber daya, ketergantungan teknologi, serta dampak sosial dan ekologis yang berpotensi ditimbulkan.

Persoalan tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam kegiatan 2nd Congress on Transition Minerals yang berlangsung pada Selasa (27/10/2026) di Quezon City, Filipina. Memasuki sesi berikutnya setelah istirahat makan siang, sekitar pukul 13.30 waktu setempat, kongres menghadirkan Jap Ison dari Legal Rights and Natural Resources Center (LRC), Filipina, untuk memaparkan berbagai persoalan ekonomi-politik di balik pengembangan Pax Silica.

Ia mengingatkan bahwa keterlibatan Filipina dalam kerangka tersebut berpotensi memengaruhi arah kebijakan industrialisasi nasional, termasuk pengelolaan pertambangan dan pengembangan hilirisasi mineral.

Salah satu persoalan yang disorot adalah potensi ekspansi pertambangan dan dampaknya terhadap masyarakat. Berdasarkan data yang dipaparkannya, sekitar 814.701 hektare wilayah pertambangan dan eksplorasi telah memperoleh persetujuan, sementara sekitar 1,97 juta hektare lainnya masih dalam tahap permohonan. Secara keseluruhan, luasnya mendekati 10 persen wilayah daratan Filipina.

Di kawasan pengembangan proyek, Ison menunjukkan adanya tumpang tindih dengan wilayah adat serta potensi penggusuran masyarakat. Berdasarkan penilaian Department of Agriculture (DA), sekitar 266 petani yang menggarap lahan seluas 410 hektare berpotensi terdampak. Ia juga menyoroti minimnya konsultasi dengan masyarakat dan pemerintah setempat sebelum proyek diumumkan.

Persoalan ekologis lainnya berkaitan dengan kebutuhan air dan energi dalam skala besar. Fasilitas semikonduktor diperkirakan membutuhkan air hingga 90 juta liter per hari, sementara pasokan yang tersedia disebut hanya sekitar 20 juta liter per hari. Selain itu, kebutuhan energi proyek diproyeksikan mencapai 3–5 gigawatt, dengan pilihan sumber energi meliputi tenaga surya, gas alam, hingga reaktor nuklir modular.

Di sisi lain, Ison mempertanyakan besarnya manfaat ekonomi yang dijanjikan. Presentasinya menampilkan proyeksi investasi asing langsung sebesar US$70 miliar, peningkatan ekspor hingga US$200 miliar, serta penciptaan ratusan ribu lapangan pekerjaan. Namun, menurutnya, proyeksi tersebut belum disertai penjelasan yang memadai mengenai dasar perhitungannya.

“Speculations will not materialize without clear obligations on technology transfer & ownership,” demikian salah satu pernyataan yang ditampilkan dalam presentasinya.

Ison mengingatkan bahwa pengalaman Filipina selama sekitar lima dekade dalam industri elektronik dan semikonduktor belum berhasil membawa negara tersebut naik secara signifikan dalam rantai nilai teknologi global. Karena itu, investasi asing tanpa kewajiban transfer teknologi dan penguatan kepemilikan domestik berisiko mempertahankan ketergantungan industri.

Ia juga menyoroti lemahnya posisi tawar Filipina dalam pengembangan Pax Silica. Menurutnya, pemerintah justru terlebih dahulu menanggung biaya pembangunan infrastruktur sebelum memperoleh komitmen investasi yang mengikat dari perusahaan-perusahaan asing. Kondisi ini berpotensi mengurangi kemampuan negara untuk menegosiasikan persyaratan investasi yang lebih menguntungkan.

Lebih lanjut, Ison mengkritisi sejumlah ketentuan dalam Memorandum of Understanding (MoU) antara Filipina dan Amerika Serikat. Ketentuan tersebut mencakup pertukaran informasi sumber daya mineral, kesempatan investasi prioritas bagi Amerika Serikat, percepatan perizinan, serta keterlibatan Amerika Serikat dalam peninjauan aset mineral kritis berdasarkan pertimbangan keamanan nasional.

Meskipun MoU tersebut belum mengikat secara hukum, Ison menilai bahwa kesepakatan semacam ini tetap dapat memengaruhi ruang kebijakan dan kedaulatan ekonomi Filipina.

“Non-binding: Soft law, but hard politics,” sebagaimana tertulis dalam slide presentasinya.

Pada bagian akhir, Ison turut membandingkan pengalaman Filipina dengan sejumlah negara berkembang, termasuk Indonesia, Myanmar, dan Chile, untuk memperlihatkan bagaimana pengelolaan mineral strategis semakin dipengaruhi oleh persaingan geopolitik dan kepentingan modal internasional.

Pemaparan tersebut memperlihatkan bahwa persoalan Pax Silica tidak semata-mata berkaitan dengan peluang investasi dan pembangunan industri, tetapi juga menyangkut siapa yang menguasai sumber daya, teknologi, dan hasil produksi. Dalam konteks tersebut, pengembangan industri mineral kritis perlu dinilai berdasarkan kemampuannya memperkuat kedaulatan ekonomi, melindungi hak masyarakat, serta menghindari reproduksi ketergantungan terhadap kekuatan ekonomi global.

Sesi kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan pertanyaan dari peserta, termasuk mengenai kegagalan transfer teknologi dalam pengalaman investasi industri semikonduktor sebelumnya dan strategi negosiasi yang dapat memperkuat posisi negara-negara berkembang dalam kerja sama investasi internasional.

Tags: #ASEAN#CriticalMinerals#DigitalEconomy#DigitalSovereignty#EnergyJustice#Geopolitics#JustEnergyTransition#PaxSilica#TransitionMineralsClimateJustice
Previous Post

Masyarakat Sipil ASEAN Bahas Perdagangan Regional, Ketergantungan Industri, dan Transisi Energi Berkeadilan

Next Post

ACSC/APF 2026: Kedaulatan Digital Asia Tenggara di Tengah Persaingan Geopolitik dan Integrasi Ekonomi Digital

admin_hints

admin_hints

Discussion about this post

Follow Us

  • Perdagangan global bukan cuma soal ekspor, impor, atau angka pertumbuhan ekonomi. Ada kepentingan besar, perebutan pengaruh, dan relasi kuasa yang ikut menentukan siapa yang diuntungkan dan siapa yang berisiko tertinggal.

Lewat dialog publik “Perdagangan Bebas di Persimpangan Jalan: Kebangkitan Nasionalisme Ekonomi dan Masa Depan WTO”, kita diajak melihat lebih kritis arah perdagangan dunia di tengah rivalitas negara-negara besar dan menguatnya proteksionisme.

#PerdaganganBebas #WTO #KeadilanEkonomi #KedaulatanEkonomi #RuangKebijakan
  • Perdagangan internasional kini tidak hanya dipandang sebagai instrumen efisiensi ekonomi, tetapi juga bagian dari strategi negara dalam melindungi kepentingan nasional dan keamanan ekonomi. Menguatnya nasionalisme ekonomi, proteksionisme, dan economic statecraft, termasuk perang dagang AS–Tiongkok, memunculkan pertanyaan mendasar: apakah perdagangan bebas sedang mengalami kemunduran, atau justru bertransformasi menjadi sistem yang semakin selektif dan strategis?

Di tengah perubahan tersebut, relevansi dan kapasitas WTO dalam menjaga sistem perdagangan multilateral berbasis aturan ikut dipertanyakan, terutama bagi negara berkembang seperti Indonesia yang membutuhkan ruang kebijakan (policy space) untuk pembangunan. 

Kegiatan dialog publik ini diselenggarakan oleh Fakultas HI Universitas Diponegoro bekerja sama dengan Koalisi Masyarakat Sipil untuk Keadilan Ekonomi (MKE), diharapkan dapat menjadi ruang diskusi kritis bagi akademisi, praktisi, dan masyarakat sipil untuk membahas isu tersebut.

Dengan ini kami mengundang Bapak/Ibu/rekan-rekan anggota Koalisi MKE untuk hadir pada:

📌 *Dialog Publik: Perdagangan Bebas di Persimpangan Jalan: Kebangkitan Nasionalisme Ekonomi dan Masa Depan WTO*
🗓️ Hari/Tanggal: Rabu, 21 Oktober 2026
⏰ Waktu: 13.00 WIB - selesai
📍 Tempat: Ruang Teater, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro, Semarang

Terima kasih atas perhatian dan kehadirannya.

#KoalisiMKE #KeadilanEkonomi #UniversitasDiponegoro #UNDIP #AkademisiDanMasyarakatSipil
  • Here are a few glimpses of resistance from around the world.
ISDS threatens public policy space, social justice, and environmental protection. Let’s unite our voices during the **Global Action Days Against ISDS!*

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS THREATENS OUR PLANET – PART 5

Video 5 - ISDS Attacks the Marine Environment 

Getting paid billions without even mining? Welcome to the reality of ISDS. ☣️

Even when governments enforce international marine protections—like UNCLOS—foreign investors can use complex corporate web structures to sue for "lost future profits". 🤯🙄

Corporations can extract millions from public coffers simply because a country chooses to protect its ocean. 🌊 

We can NOT allow secretive trade mechanisms to exploit our oceans and public money.

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS THREATENS OUR PLANET – PART 4

Is it possible to stop ISDS? ⛓️‍💥⛔️

Absolutely—and countries are already doing it! 🌍

From Indonesia and India terminated outdated bilateral investment treaties, to Germany exiting the Energy Charter Treaty, governments worldwide are realizing the danger of corporate courts. 😵✊🏽

Our Governments must STOP fearing corporate scaremongering.

Evidence shows foreign investment relies on resources, market size, and infrastructure—not ISDS clauses.

We call on governments to stand firm, exit toxic investment treaties, and protect national policy space! 🚨

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!
#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui  @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS THREATENS OUR PLANET – PART 3

Resource sovereignty is under attack. 🛘‼️

As the race for critical minerals speeds up, Global South countries are facing the risks of ISDS.

When Governments enact raw material export bans, enforce local processing, or protect indigenous lands, multinational corporations use ISDS to sue for billions of US dollars. 💸 

In countries like Indonesia and the Philippines, these corporate threats hold indigenous rights, environmental protections, and national policies hostage. 😵

Therefore, we demand an end to investment treaties with ISDS permanently and prioritize community rights over corporate greed! 🫵🏼✊🏽

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui  @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS THREATENS OUR PLANET – PART 2

ISDS Attacks Tax Justice 

Who pays the price when your Government is being sued through ISDS? YOU do. 💸😰

Fossil fuel corporations often seek tax avoidance, when Governments ask for them to pay–they’re threatened with ISDS claims.

When corporations use ISDS to attack national policies, Government budgets take a massive hit.

Losing an ISDS case or even paying high-powered legal teams to defend against one, drains public funds that belong to the people. 💰👥

Fewer public funds means reduced budget for important public services such as healthcare, education, and social security programs. ⛓️‍💥📉

ISDS doesn’t just protect investors but it actively steals communities of their rights to public services. 🥷

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree

IsdsOutClimateJusticeIn ISDSThreatensOurPlanet ClimateJustice StopISDS ISDSfree 

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @publicservicesinternational @lciti.fhui @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev
  • ISDS Threatens Our Planet - Part 1

ISDS Attacks Coal Phase Out

How are corporate courts blocking urgent climate action? ⚠️🌏
Imagine a mechanism where Governments are chilled from taking robust climate actions out of fear from getting sued by corporations.

Yes, the mechanism is called Investor-State Dispute Settlement (ISDS). It allows foreign corporations to sue governments in secret tribunals for billions of dollars whenever public policies ”threaten” their future profits. 🤯🤬

Clive Palmer’s case against Australia shows us that ISDS is being weaponized to delay coal phase-outs and evade democratic accountability.
When corporations can hold climate policy hostage, taxpayers end up paying the price. 

In pushing for an ISDS-free world, we join the global movement on the global days of action against ISDS. 

Join us to fight against corporate power through www.stopsids.global

Stay tuned for the next parts as we reveal how ISDS threatens our planet!

#IsdsOutClimateJusticeIn #ISDSThreatensOurPlanet #ClimateJustice #StopISDS #ISDSfree 

@pwypindonesia @resourcejusticenetwork @thirdworldnetwork @psiglobalunion @lciti.ui @pacificnetworkonglobalisation @aftinet @focussouth @bilaterals_org @powershift_ev

© 2022 - Sahita Institute

  • Facebook
  • Twitter
  • Instagram
No Result
View All Result
  • Home
  • About Us
  • Campaign
    • Trade Justice
    • Digital Justice
    • Energy Transtition
  • Collective Idea
    • Visual Movement
    • Article
  • News
  • Publication

© 2022 Sahita Institute